beritalennus.co.id Tangsel – Sungkeman dengan cara membasuh kedua kaki orang tua untuk meminta doa restu adalah sebuah tradisi yang sudah dua kali dilakukan SMP Negeri 20 Kota Tangerang Selatan, hari ini kembali diadakan lagi dengan penuh MERAKI. MERAKI adalah salah satu bahasa dari Yunani yang artinya melakukan sesuatu dengan penuh jiwa,cinta kasih dan inovasi penuh kreativitas dalam jiwa anak-anak dan orang tua mereka. Jum’at, pagi (26/4).
Kegiatan tersebut berlangsung di lapangan sekolah SMP Negeri 20, Jalan Bukit Permata 9 blok E, Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan. Dihadiri oleh Kepala Sekolah SMP Negeri 20 Frida Tesalonik M.pd, para Staf guru pengajar, Ketua Komite Yahno Saputra S,E, Waketu Komite Didi Arsyandi, siswa kelas IX / 1 – IX / 6 dan para orang tua murid.
Terlihat para orang tua murid memenuhi tempat yang sudah disediakan dengan membawa sebuah baskom dan handuk kecil untuk digunakan pada saat acara sungkeman berlangsung, dimana anak membasuh kaki kedua orang tuanya sambil meminta doa restu agar dapat kemudahan dalam mengikuti ujian, dan dimudahkan mendaftar ketingkat selanjutnya.
Frida Tesalonik M,pd dalam hal ini menyampaikan, meskipun dia berangkat dari seorang guru namun mempunyai keinginan yang luar biasa dalam memberikan inovasi, semangat dan sejarah disekolah yang di pimpinnya.
” Kegiatan ini sudah dua tahun berjalan selama masa tugas saya, dan itu sengaja saya terapkan sebagai salah satu tradisi yang mungkin pada zaman sekarang jarang dilakukan di sekolah- sekolah lain bahkan sudah pudar. Saya memang berlatar belakang dari seorang guru, oleh karena itulah saya mempunyai keinginan agar adat budaya sungkeman jadi sebuah tradisi yang berkelanjutan, bahkan jika kelak saya sudah tidak lagi memimpin disekolah ini atau pensiun, kegiatan seperti ini tetap diadakan.” pesan Frida Tesalonik kepada para Staf guru pengajar.

” Menurutnya, saat ini technologi semakin canggih anak-anak tanpa ada pembimbing pun mereka sudah bisa belajar sendiri melalui gejget / handphone nya, bahkan mereka bisa lebih pandai dari gurunya. Akan tetapi untuk membentuk sebuah karakter, budi pekerti yang baik, kreativitas yang tinggi, anak-anak butuh dibimbing oleh seorang guru dan orang tua mereka,” ungkapnya.
Untuk itu saya mencoba membangun serta menumbuhkan kembali budi pekerti itu sendiri, yang dulu ada dalam mata pelajaran, sekarang sudah digabung dengan pelajaran lain dan seiring perkembangan jaman banyaknya pengaruh dari luar yang merusak karakter asli orang Indonesia, maka melalui tradisi ini saya ingin bisa berbagi untuk sekolah lain, dalam proses pembentukan karakter anak-anak kita, anak Indonesia pada umumnya, meskipun hanya sebagian kecil saja yang tersentuh, pungkasnya.
Frida Tesalonik juga mengatakan bahwa selain acara sungkeman karena masih suasana lebaran, jadi sekaligus halal bihalal. Terlihat hampir semua orang tua dan murid hadir, katanya.
Dan perlu diketahui,” ujian disekolah ini bukan lagi menggunakan paper, yang hanya membuat anak-anak hanya bisa menulis, tanpa dapat mengeksplorasi apa yang mereka dapat disekolah ini. Kami akan menyiapkan mental mereka, dalam memiliki keterampilan, kreativitas bagaimana membuat laporan, layaknya seorang Mahasiswa. Karena materi yang dipakai dan disusun dalam membuat materi bukanlah hal yang mudah dilakukan, butuh penguasaan yang benar-benar mumpuni,” tambahnya.
Dengan begitu,” setelah kluar dari sekolah ini, saya berharap anak-anak memiliki keterampilan, mental yang kuat, kreativitas, dan mempunyai pengalaman bisa mendapatkan karakter budi pekerti yang baik, untuk mereka menghadapi dunia nyata dikemudian hari pada jenjang sekolah selanjutnya, bahkan sampai mereka meraih kesuksesan dalam bekerja,” tutupnya.
Devri
